Jumat, 07 Oktober 2011

Harga Diri si Kerupuk Solo

Terik. Beberapa puluh meter memandang jalan beraspal di Kota Jogja mungkin mirip dengan memandang gurun pasir yang terhampar. Ada yang sama, fatamorgana serupa air tercipta di atas permukaan. Kalau mengendarai kendaraan bermotor roda dua di bawah klimaks terik matahari begitu, akan sangat terasa angin panas kering memapas muka. Itu dengan roda dua, bagaimana dengan hanya kaki dua? Seperti yang akan kulihat sebentar nanti.

Aku melihatnya payah. Tidak ada baju tebal yang menghalangi terik mengenai kulit tubuhnya. Oh ada. Hanya kemeja batik tipis membungkus badan. Aku mengenal itu batik motif Solo. Ada sebuah topi yang tak kalah usang dengan kemeja, celana, dan sandal yang dikenakannya. Kau bisa menyebutnya "serasi".

Dari ruko ke ruko. Ia masuk sebentar lalu keluar lagi. Ah, mungkin pengemis.

Aku sudah siap mengeluarkan motorku dari jejajaran motor yang ditata rapi di parkiran. Aku sengaja menunggu bapak tua itu mendekat. Aku ingat ada sebagian dari hartaku yang sebenarnya itu adalah miliknya, jadi aku menyiapkan selembar biru dari dalam tas.

"Monggo tumbas kerupuk, saking Solo niki (silahkan membeli kerupuk, dari Solo ini)", kata si bapak tua. Bukan pengemis, ia menjual kerupuk rupanya.

"Oh, mboten. Niki kangge Bapak mawon (Oh, tidak. Ini untuk Bapak saja)", kataku. Menyodorkan sesuatu yang hanya selembar. Sesuatu yang paling kecil nilainya dari beberapa lembar di dalam tasku. Aku memalukan, ya?

"Kula mboten njaluk. Niki kerupuk, reginipun sedasa mawon (saya tidak meminta-minta. Ini kerupuk harganya sepuluh ribu saja)".

Terus terang aku tidak suka kerupuk. Di rumah, mungkin ada ayah atau ibu yang suka, tapi aku belum hendak pulang ke rumah. Dan uangku tidak cukup banyak hari itu. Kalau kubelikan kerupuk, bisa jadi aku menahan lapar sampai malam nanti. Itu artinya tidak ada makan siang.

Aku belum selesai berperang dengan diriku sendiri, tapi si bapak sudah berjalan melewatiku.

Aku sesaat masih melihatnya. Memasuki toko isi ulang printer yang juga baru saja kumasuki. Sepanjang jalan, aku masih saja merenungi apa-apa tentang si bapak penjual kerupuk. Aku semakin malu sendiri. Ia membelajariku sesuatu.

Sungguh, dengan penampilannya itu, ia bisa saja meminta-minta, pikirku. Toh sekarang juga banyak pengamen jalanan yang rerata masih memiliki fisik yang kuat. Mengamen yang (kata mereka , sih) cuma hobi saja pada kenyataannya menjadi kesibukan mereka dari pagi sampai sore, atau bahkan malam. Apalagi kalau sedang hari besar atau musim liburan, ratusan ribu rupiah bisa didapatkan dalam sehari. Dengan ini, mungkin tidak hanya pengamen-pengamen muda itu yang kalah oleh si bapak penjual kerupuk. Dengan harga diri setinggi itu, siapa coba yang bisa membelinya?

Selembar biruku tadi? Tentu tidak.

---
www.titis-gie.blogspot.com


Sabtu, 01 Oktober 2011

heart



Adalah dengan hati, kita bisa menyelami rasa lebih dalam, jauh ke dasar.
Adalah dengan hati, kita mendengar dengan kejernihan yang tak mampu terindera oleh telinga.
Dan lagi, adalah dengan hati, kita menyimak pesan-pesan rahasia di sekitar kita. Pesan-pesan yang Allah titipkan pada daun, matahari, angin, mendung, juga cahaya. Pesan rahasia, hanya bagi yang bersedia merelakan hatinya untuk dilambai para pembawa pesan Allah. Untuk setiap kita, yang menjadi objek dari sifat Ar RahmaanNya.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. .

Hati, sebuah pirani lunak yang Allah titipkan kepada kita. Aktifitas dan kerja hati tidak nampak dari luarannya, tapi sungguh ia mampu mengantarkan kita meraih predikat ahli surga.

Rasulullah pernah menunjuk seorang sahabat sebagai ahli surga. Para sahabat yang lain mengkritisi pernyataan Rasulullah tersebut, karena yang mereka tahu, sahabat yang dimaksud Rasulullah itu biasa saja dalam amalan shalat wajibnya, shalat sunnahnya, dan shaumnya. Bagaimana ia ditunjuki oleh Rasulullah al Amin sebagai ahli surga? Belakangan diketahui bahwa sahabat tersebut memiliki kebiasaan memaafkan setiap kesalahan saudaranya. Barangkali ia berharap balasan yang sama dari Allah, bahwa jika ia ingin Allah memaafkan dosa-dosanya maka haruslah ia memaafkan kesalahan sesamanya lebih dahulu. Barangkali hatinya begitu mengimani betapa mahal arti permaafan di akhirat kelak. Bahwa permaafan lebih mahal nilainya daripada dunia seisinya. Amalan hatinya telah membuatnya ditunggu oleh para penghuni surga.

Ingatkah kita dengan orang yang mungkin secara tidak sengaja kita jumpai saat perhentian lampu merah sesiang tadi? Atau orang yang pernah duduk sebangku dengan kita di sebuah halte?

Mungkin, kita melakukan hal-hal yang secara lahir sama dengan orang lain. Tapi kita tidak pernah tahu bahwa dengan bekal hati, orang lain telah mendahului kita dalam perjalanannya menuju surga.
Mungkin, lebih dari yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah tadi, selain memaafkan ia juga mendoakan kebaikan demi kebaikan untuk orang yang pernah dzalim kepadanya.

Hati memiliki warnanya. Jika warna itu nampak, aku yakin pendarnya lebih menawan daripada pelangi. Tapi bisa jadi ia pekat, hitam dan pucat. Cahaya terserap. Ia kerontang dan laik dibuang. Kitalah yang mewarnainya.

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya". [ Asy Syams 8-10 ]

Selasa, 27 September 2011

Elephant is. .

Barangkali sebagian dari kita pernah membaca kisah ini, atau kisah yang serupa dengannya. Tapi, dengan sedikit perubahan dan dramatisasi pada penghujungnya, saya ingin membawakannya kembali. Entah akan terambil hikmahnya atau tidak. Semoga.

---

Terkisah, ada tiga orang anak kecil dari kota dikumpulkan oleh seorang pemilik peternakan. Sang pemilik peternakan memiliki banyak sekali binatang ternak yang dipeliharanya dengan baik. Sangat berbeda dengan pemilik peternakan yang berkutat dengan binatang-binatang ternak setiap harinya, ketiga anak ini sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang binatang. Selama ini mereka mengenal binatang sebatas dari dongeng yang diceritakan oleh kedua orang tua mereka untuk  mengantar mereka terlelap tidur.

Singkat cerita, sang pemilik peternakan meminta ketiganya untuk bersedia ditutup matanya. Kemudian, mereka diminta untuk menebak binatang apa yang akan dihadapkan kepada mereka nanti. Mereka diperbolehkan meraba, tetapi tidak untuk membuka penutup mata.

Ketiga anak itu ditempatkan di posisinya masing-masing. Dekat dengan si binatang. Setelah diberi aba-aba, ketiganya mulai meraba. Tidak sampai lima menit waktu yang diberikan untuk meraba, kemudian mereka diminta menjelaskan tentang sebuah binatang yang tadi mereka raba, yang belakangan diberitahu oleh si pemilik bahwa binatang tersebut adalah gajah.

Si anak pertama berkata, "Gajah itu kecil. Ia bahkan pipih sekali! Aku bisa mengibas-ibaskannya dengan tanganku. Well, ia pasti lucu sekali."

Anak yang kedua diberi kesempatan untuk menjelaskan apa itu gajah. Ia berkata, "Tidak! Kau salah! Sama sekali salah! Gajah itu sungguh besar. Mungkin ia lebih besar dari pada ayahmu. Ia bulat. Tanganku tidak cukup panjang untuk melingkarinya. Kau benar-benar salah."

Sang pemilik peterbakan berpaling kepada anak ketiga. "Kalau kau, Nak, bagaimana menurutmu tentang gajah?"

"Sir, aku tidak yakin. Bagiku ia cukup berat. Sebesar pahaku, kurasa. Ia mengeluarkan angin yang hangat," menggaruk kepalanya. Berpikir. "Tapi, mungkin aku salah. Mataku tertutup. Semuanya gelap. Aku ingin melihatnya dengan mataku. Kalau aku boleh melihatnya..."

Sang pemilik peternakan tersenyum. Mengusap kepala ketiganya. "Ya, kalian boleh membuka mata kalian."

---

Yup.
Tidak ada yang salah dengan jawaban ketiganya. Bahwa gajah itu pipih, tentu saja itu benar. Si anak pertama mendapat telinga gajah. Ia mengibas-ibaskannya dan memainkannya. Si anak kedua meraba perut gajah. Itu juga tidak salah jika ia menjelaskan bahwa gajah itu besar. Dan si anak ketiga, menyebutkan apa yang ia ketahui tentang hidung gajah. Hanya saja si anak ketiga tidak cukup puas mengetahui dengan mata yang tertutup. Ia ingin mengetahui kebenaran itu secara keseluruhan.

Bahwa Islam mulai terkotak-kotak pun tentu saja sudah diprediksikan oleh Rasulullah. Tidak mesti salah pemahaman yang masing-masing diyakini oleh mereka.

Aku hanya meyakinkan diriku, bahwa mereka benar.
Mereka meyakininya dengan ilmu mereka.

Aku masih jauh untuk menjadi sang pemilik peternakan, yang mngetahui semuanya. Tapi aku tidak berharap menjadi si anak pertama atau bahkan kedua. Cukuplah aku mengakui bahwa aku belum benar-benar tahu, dan "bukalah penutup mataku" agar aku tahu.

qul innamal 'ilmu 'indallah.. (67:26)

'amal ba'da 'ilmu. .
wallahu a'lam bishshawab.

Antara Aku, Kota Bakpia, dan Pilkada

Sejak jamannya simbah masih mengalami penjajahan Jepang, tampaknya peribahasa "wong Jowo iku mati yen dipangkon (orang Jawa itu mati kalau dipangku)" masih berlaku sampai jaman wireless seperti sekarang. Pangku adalah salah satu tanda baca dalam aksara Jawa. Fungsi tanda baca ini memang untuk mematikan huruf Jawa yang terakhir dalam sebuah kata atau kalimat. Misal dari kata 'mas-ji-da' baru bisa dibaca 'masjid' kalau huruf 'da' dipangku. "Dipangku" sendiri memiliki makna "dikondisikan dalam keadanyaan senyaman-nyamannya". Kalau sudah nyaman ya mati.Toh yang namanya umpan selalu menggiurkan si target, to ya? Kalau sudah kecantol umpan, digoreng boleh, dikukus juga boleh. Entah orang Jepangnya yang mafhum dengan tabiat orang Jawa, nyatanya Jepang yang mengaku "Saudara Tua" Indonesia diterima baik di tanah air. Ditambah lagi jargon 3 A, Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia", mantablah Indonesia berpihak kepada Jepang.

Hasilnya?

Kerugian moril dan meteriil simbah dan teman-teman seperjuangan simbah saat itu 100 kali lebih rugi dibandingkan saat penjajahan Indonesia oleh Belanda. Yah, Belanda yang menduduki (?) Indonesia sekitar 350 tahun itu saja masih bisa dibilang lebih 'manusiawi' daripada pendudukan Jepang di Indonesia yang hanya 3.5 tahun.

Hmm..

Tidak hendak mengungkit luka lama bangsa ini. Hanya saja, kok ya sekarang-sekarang ini seperti mengalami de-javu atas taktik "wong Jowo mati yen dipangkon" tadi. Ngilu sebenarnya mengingat kejadian di rumah tadi pagi. Ada tetangga berkunjung, heboh sekali mengajak bapak dan ibu mancing gratis di sebuah pemancingan. Nggak tanggung-tanggung, doorprize juga disediakan bagi pemancing yang tangkapan ikannya mumtaz.

"Berangkat saja, kan lumayan itu!!",kata tetangga.

"Nggih", kata bapak, asal saja.

"Asal dikasih ya seneng saja, nggih!"

"Lha tapi saya ndhak kenal pribadi calonnya.."

"Ya ndhak papa", kata tetangga semakin manteb. "Yang seperti njenengan itu banyak! Saya juga, sebenarnya ndhak kenal, tapi kalau asal dikasih ya ndhak papa. Yang dicari malah yang begitu ituuu. Nanti bisa lapor. Yang penting nanti kalau njenengan ditelpon, dijawab saja saya sudah kesini..."

Tetangga berlalu meninggalkan setumpuk pamflet, stiker, dan kresek putih satu plastik ( buat apa ya, pikir saya).

Masya Allah..
Sedih sekali. Inikah umat yang begitu dicintai Rasulullah sampai pada akhir hidup beliau, yang beliau lirihkan adalah umatnya, "umatii, umatii, umatii...".

Dalam ranah Yogyakarta saja, budaya pembodohan semacam ini semakin ngetrend, menjamur kayak kutu air.
Katanya mencerdaskan, tapi dimulai dengan mendidikbodohkan.
Katanya mensejahterakan, tapi awalannya memanjakan watak menerima-menerima (menghindari kata 'meminta'minta').
Katanya perbaikan, tapi dimulai dengan penghancuran :'(

Saya, dengan tidak berani mengatasnamakan siapapun, mengharapkan pemimpin yang nggak begitu-begitu.
Mana ya, pemimpin yang memiliki kader yang nggak cuma kenal tapi juga paham dengan calonnya. Jika ditanya, si kader bisa menjelaskan dengan baik dan cermat visi misi yang diemban. Melihat pemimpin tidak hanya dari pribadinya tapi juga kader-kadernya. Ada nggak ya, kader yang rela demi kebaikan kotanya, "ngiklan" tanpa bayaran. Yang diharapkan bukan ikan pancingan, kaos, jam dining, gula, teh, sembako. Cukuplah mengharap kebaikan di setiap lini wilayahnya.

Mengharapkan kader dan pemimpin yang memahami bahwa setiap perbaikan itu memiliki prioritas, memiliki tahapan. Tidak bisa membangun gedung-gedung betingkat, sarana-sarana, tapi lemah di sisi moral warganya. Warganya masih saja percaya ngalap berkah dari cucian kaki, dari tumpeng, dari gunungan. Mengharapkan pemimpin yang mnyelamatkan kami dinia dan akhirat. Yang tidak membeli suara-suara kami dengan ikan pancingan (weekk).

Oh, Bapak-bapak calon walikota..
Saya yakin semuanya baik. Jika tidak baik, tidak mungkin dicalonkan. Hanya saja, segala yang baik dan segala tujuan-tujuan yang baik itu perlu diawali dengan kebaikan pula. Kebaikan di awal, di tengah, dan di akhirnya. Itu insya Allah lebih diridhai dan lebih berkah. Karena kebaikan itu tidak bisa diawali dengan keburukan. Mungkin niatnya baik, tapi jika dampaknya terhadap orang lain buruk, maka mohon dipertimbangkan lagi. Ini akan menjadi pertimbangan jika targetannya bukan duniawi saja.

kalo ada yang oke, Coblos ajaaaa~!!!! yookk~!

Kehendak Allah itu (sebenarnya) Mudah Ditebak

" Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan" ( Asy Syams : 8 ).

     Hakikatnya bukan malaikat, karena tak melulu berada dalam kepatuhan. Ianya sering bersalah dan mengulangi dosa. Bukan juga iblis yang istiqomah berdosa sampai hari kiamat kelak. Meskipun begitu, manusia ~dengan semua piranti yang diberikan kepadanya~, bisa dicemburui oleh malaikat karena ibadah yang ia lakukan. Pada saat yang sama, ia akan bertempat yang sama dengan syaithan jika amal timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan amal kebaikannya. Maka keduanya adalah pilihan, dan pilihan itu ada di tangan si manusianya sendiri.

     Hmmm.. Sebenarnya kehendak Allah itu mudah loh..

     Sepagi tadi, mengabsen apa-apa saja yang dimiliki sampai saat ini, jika itu digunakan dalam kebaikan, maka itulah kehendak Allah. Misalnya, jika yang kita miliki adalah suara yang bagus ~setidaknya yang bilang gitu ya cuma ibu kita.he~ maka shadaqahkan suara kita itu untuk tilawah. Membacanya dangan benar kemudian melagukannya. Kan banyak tuh, orang-orang yang mendapat hidayah setelah mendengar bacaan Qur'an. Umar ibn Khaththab juga demikian, kan?

     Jika, yang kita miliki adalah tulisan tangan bagus, maka berprasangka baiklah dengan tulisan tangan kita itu kita akan mengubah dunia dengan tulisan. Kan ada, sebuah lirik nasyid, "kata ibarat pedang yang tajamnya bisa membunuh lawan..". Maksudnya begitu besar peran kata-kata yang mempunyai ruh bisa mengubah sejarah, mengubah paradigma. Al Qur'anul Kariim tersusun pada masa Rasulullah, yang saat itu dunia persajakan sedang booming, sedang populer. Al Qur'an  hadir sebagai sajak terindah sepanjang masa, disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, nabi yang umi, yang tidak bisa baca tulis. Sehingga dengan itu, tak ada keraguan bahwa Al Qur'an memang bukan karya pemikiran manusia. Subhanallah skenario Allah saat itu..

     Atau mungkin kita memiliki kelebihan berupa kecerdasan, maka hak kecerdasan kita adalah menggunakannya dalam apa-apa yang bermanfaat untuk Islam. Ilmu adalah milik umat Islam. Betapa kita mengenal para 'ulama besar mengawali kemajuan pengetahuan di berbagai bidang. Ibnu Sina dengan ilmu kedokterannya, ibnu Haytsam dengan ilmu fisikanya, dan yang lain. Dan betapa Allah meninggikan derajat seeorang itu bukan dengan harta, bukan dengan rupa, tapi dengan ilmu. Rasullullah membandingkan ahli ilmu dengan ahli ibadah seperti bulan berbanding bintang di sekitarnya. Karena ibadah yang disertai ilmu akan lebih bernilai dan diterima oleh Allah. Jika mendapatkan dunia adalah dengan ilmu, maka untuk mendapatkan akhirat haruslah dengan ilmu.

     Tak lengkap kelebihan tanpa kekurangan. Dan kekurangan jika dimaknai dengan benar maka akan menjadi ladang pahala juga. Mengetahui bahwa kita memiliki karakter pemarah misalnya nih, akan menjadi jihad kalau kita mau menahan marah kita terus mengiringnya dengan pemaafan. Tarik napas dalam-dalam, tahan sebentar, keluarkan :)

     Atau kita merasa memiliki sifat "lemot" atau "lola"? hhhff.. Ibnu Hajar Al Asqalani mengajari kita untuk bersabar dalam belajar. Semasa mudanya beliau hampir putus asa dalam belajar. Hafalan teman-temannya lebih banyak. Sampai beliau menyendiri di sebuah gua dan mendapati tetesan air dari ujung stalaktit mampu menciptakan sebuah cekungan pada batu. Beliau tahu, air yang menetes itu, jika satu persatu menetes, sedikit demi sedikit menimpa batu, kepadatan batu akan kalah juga. Sehingga menjadilah beliau, menuangkan sebagian hafalan hadistnya dalam karya kitab Bulughul Maram sebagai buku referensi fiqh umat Islam. Waooww.. Subhanallah.

     Entahlah. Apapun yang kita miliki, jika itu runcing, maka gunakanlah dalam kebaikan. Jika masih tumpul, kita hanya tinggal mengasahnya saja. Dan tuailah pahala dalam setiap momen pengasahan itu. Yang mengetik inipun masih sangat jauh dari fase mengasah. Ianya masih perlu mencari, belajar, mengamati.

     Kita semua sama, Allah memfasilitasi kita dengan perangkat yang sama. Seperti yang terkutip dalam Asy Syams ayat 8. Kita sama-sama memiliki ilham fujur dan ilham taqwa. Maka manakah yang paling berat timbangannya di akhir nanti itulah hasilnya. Dan aku hanya berdoa semoga kitalah pemenangnya. Dengan Al Qur'an dan Sunnah sebagi kompasnya:)

...

pada suatu pagi hari, bada shubuh setelah mengerjai dan dimarahi kakak >
03092011

Berang-berang atau Kura-kura yang Jatuh Hati Adalah Kasihan :)

            Sungguh aku ingin mengusap kepalamu, Nico kecil. Nico kecil yang tak lagi kecil. Kau harus membagi pelajaran itu kepada teman-temanmu. Ya, tentang itu. Tentang mereka yang kau ~dengan polosnya~ menyebut mereka berang-berang, kura-kura, koala, rakun, atau beberapalah lagi namanya. Bagiku, cerita-ceritamu itu berarti kau sudah tak lagi kecil. Bagilah kepada mereka agar teman-temanmu pun terbelajar, terhikmah melaluimu.
            Hmm… Adalah kusebut itu hati, sesuatu yang membuatmu memiliki sensasi itu. Bagaimanalah kau menjadi tak bisa menjelaskan kenapa kau tak bisa tidur. Kau juga sampai melupakan sarapanmu, padahal kau tahu maagmu bisa kambuh kalau terus begitu. Dan terakhir kemarin, aku tahu beberapa kali kau tak khusyu dalam sholatmu.
            Ijinkan aku juga mencium keningmu.
            Tersampaikan indah kepada kita, bahwa hadist arbain yang pertama mengenai niat. Bahwa segala sesuatu kau dapatkan tergantung pada apa yang tersebut di dalam sini, di dalam hati. Hati yang mendengungkannya untukmu, sehingga kau melakukan sesuatu yang nampak itu baik tapi ternyata itu adalah sebuah kesiaan di hadapan Allah. Dari sisi Allah, sekali lagi dari sisi Allah, kau tak mendapat sedikitpun hasanah.
            Iya, aku ingat juga ketika kau menyampaikan padaku sekutip meteri kajian di masjid utara sana, tentang semisal jilbab yang kita pakai barangkali bisa saja menjadi dosa bagi kita apabila ~secara bawah sadar~ kita meniatkannya untuk menarik perhatian.
            Perhatian siapa? Perhatian berang-berang barangkali. Atau kura-kura.
            Bawah sadar. Terniatkan sudah.
            Sungguh, berolehkan aku memelukmu...
            Nico kecil, sebenarnya kau tahu teori itu, tapi entah kau kemanakan? Wahai.
            Berterimakasihlah kepada seseorang yang memeberitahumu bahwa barangkali kau egois sekali ketika melontarkan kalimat, “Ah, aku ‘kan tidak meniatkan bertingkah atau berbicara agar mereka memperhatikanku. Aku memang seperti itu. Itu aku, tidak dibuat-buat. Kalau mereka merasa aku bagaimana-bagaiman ya salahkan pikiran mereka sendiri.”
            Baiklah, kita garisbawahi kata “tidak dibuat-buat”. Nico kecil, barangkali, kita justru “perlu membuat-buat” diri kita. Bagaimanalah caranya agar tidak ada pikiran mereka itu.
            Nico kecil, tahukah bahwa kalau mungkin berang-berang, kura-kura, koala, panda juga sedang dalam proses memperbaiki diri? Mungkin mereka sedang berproses menyempurna menjaga pandangan, menjaga hati juga. Nah, takkah kau kasihan jika dengan “tidak dibuat-buatmu” itu kau bisa saja mengehentikan langkah perbaikan mereka? Nico kecil, berterimakasihlah pada seseorang yang mengataimu itu egois namanya…
            Bunga yang tersemai sebelum waktunya, serupa cinta yang tersemi sebelum masanya. Nico kecil, jatuh cinta sebelum waktunya itu kasihan. Kasihan! Maka tolonglah mereka dengan mengubah “tidak dibuat-buat”mu itu menjadi “memang perlu dibuat-buat”.
            Nico kecil, sepakatkah kita kalau “dibuat-buat” di sini berlepas dari pandangan manusia dan segenap anggapan mereka? Cukuplah Allah, yang mengetahui kau sebenarnya. Maka itu akan mudah bagimu.
            “Perlu dibuat-buat”, Nico kecil. Bukan hanya “dibuat-buat” karena kau akan merancukan maknanya.
            Oya, memangnya kenapa kalau kau tomboy? Wahai Nico kecil, apapun warnanya, kupu itu tertakdir indah, bagi siapapun penikmatnya. Jadi jangan lagi mengabsen kekurang-kekurangnmu sebagai dalih agar mereka tak menyukaimu. Ingat, kupu-kupu tertakdir indah bagi penikmat warnanya. Sungguh berbanyak orang yang bisa menyaksikan kupu-kupu, apapun warna kupu-kupu itu. Masing-masing mereka berbeda. Ada segelintir tak suka kuning, namun terkesima anggunnya hijau. Mungkin tersebutlah beberapa tak nyaman menatap biru, namun tarhanyut oleh jingga. Apapun warna kupu-kupu, tak semua orang tak suka, sebagaimana tak semua orang suka. Nah, untuk yang disebutkan pertamalah si kupu-kupu perlu menghindar.
            Bagaimana berjilbab, bagaimana berbicara, bagaimana berinteraksi dengan mereka, kau pasti sudah tahu teorinya.
Aku percaya kau padamu, Nico kecil…
Untuk Allah, mungkin kita memang “perlu dibuat-buat”.
Dan ini, sungguh ijinkan aku memintamu bersepakat denganku bahwa kita akan sama-sama menjadi lebih baik. Untuk Allah, hanya untuk Allah..

Waltinem

Ini kisah sewaktu Titis masih kecil. Si Titis kecil bersama Simbah Putri. Dulu sih Titis tidak tahu akan sedalam ini mengingatnya. Apalagi setelah membaca buku itu. Kan dulu belum ada buku itu. Lagian mana mau coba, Titis kecil membaca buku yang gambar depannya orang gede gitu (dulu Titis kecil sukanya komik Chinmi!). Alih-alih dibaca, kalau dulu Titis punya buku itu mungkin cuma akan diberikan pada Simbah. Simbah akan suka sekali kalau punya banyak kertas tidak terpakai.

“Biarpun kertas bekas, kalau masih bisa dimanfaatkan, ya dipakai. Bisa jadi rizki. Jangan mubadzir”, kata Simbah dulu mengajari Titis.

Oya, Simbah Putri kan tidak bisa membaca. Jadi, jangan salahkan Simbah kalau tidak bisa membedakan mana buku bermanfaat dan mana kertas bekas. Bagi Simbah sama saja itu. Iya, nantinya sama saja, untuk membungkus tempe atau bawang merah atau cabai.

Tapi bagi Titis, Simbah kelak adalah seorang penulis, sekalipun tanpa kemampuan baca tulis. Simbah kelak akan menulis di dalam lembaran-lembaran kertas warna-warni di dalam hati Titis. Dengan hiasan berbanyak bunga di mana saja sudutnya. Dengan pena kesahajaan dan tinta tulus doa juga tutur kata. Kelak, tiga belas tahun lagi, lembaran-lembaran wangi itu akan terjadi satu dalam ikatan rindu, yang hanya untuk Simbah.

Tapi kenapa mesti tiga belas tahun lagi? Kan itu berarti menunggu Titis dua puluh tahun usianya. Kan Simbah sudah baik pada cucu-cucunya sejak Titis kecil. Memangnya Titis yang sebelum dua puluh tahun itu kenapa?
Dalam hati, Titis pun menanyakan pertanyaan-pertanyaan serupa kepada dirinya sendiri. Hanya saja dengan intonasi berbeda. Intonasi menyalahkan dan ketukan penyesalan. Tiga belas tahun lagi.

***




“Ibuku dokter,” kata Wulan kepada teman-temannya. Saat itu jam istirahat sekolah. “Kalau Satria mengusili kita lagi, bilang saja pada ibuku, biar Satria disuntik! Biar kapok!”

Kemarin memang Titis berantem sama anak bernama Satria itu. Gemuk badannya, nakal sekali. Teman Titis banyak yang takut padanya. Meskipun sama-sama masih kelas dua, tapi Satria ini badannya mirip kelas enam saja. Yang berani melawannya ya baru Titis kemarin ini. Titis kecil tomboy sekali.

“Halah, coba bilang pada Oomku. Oomku itu tentara ya. Sekali tembak, selesai sudah!”, celetuk Ahmad. Dasar Ahmad, anarkis sekali. Memangnya apaan.

“Ngapain bilang orang-orang. Cuma Satria aja, sendiri juga berani”, kata Titis, gerah teman-temannya pamer begitu.

“Ya jelaslah sendirian. Memangnya mau bilang sama neneknya titis di desa?”, timpal Adi. “Bisa-bisa dilempar bawang!”.

“Hah? Dilempar bawang?”, Ahmad bingung.

“Neneknya Titis itu jualan sayuran di pasar, nggak ngerti, ya?! Makanya hati-hati, Mad!”, disusul gelak tawa lebar-lebar (ingin sekali Titis menyumpalnya dengan sesuatu).

Titis melotot. Terbakarlah Titis. Maka meraih ransel Adi, kasar sekali meraihnya. Membawanya keluar kelas lalu memuntahkan isinya di depan pintu. Otomatis berserakan semua. Buku, pensil, penggaris, kertas-kertas (ada komik itu!), semuanya.

Wulan, Ahmad, dan Adi hanya bisa diam demi melihat pemandangan itu. Takut mereka. Titis yang marah saja berani melawan Satria, apalagi pada mereka? Mana berani mereka protes. Mana ada yang tahu Titis akan semarah itu dengan guyonan basi Adi itu, toh biasanya Adi tidak pernah sukses melucu.

Ah, bagi Titis, Adi baru saja melempar sebuah batu besar ke dalam danau yang tenang. Seketika mencipta gelombang besar kemarahan pada permukaan. Dan kalaupun permukaan itu kembali tenang nanti, tetap saja danau itu tidak akan sama seperti awalnya. Karena jadilah di dalam danau itu sebuah batu besar. Tidak tampak dari permukaan luar, namun batu itu tetap di dasar. Tidak sama lagi.

***

“Titis masih marah? Iya, Adi menyebalkan. Tapi Titis jangan marah lagi ya. Di sini saja main-main”, rayu Wulan.

Ba’da dhuhur, sudah pulang sekolah ini. Keduanya asyik memainkan mainan bidak-bidak penguin di rumah Wulan. Kecil penguin ini, di bawahnya ada rodanya. Kalau diletakkan pada relnya, bidak penguin akan meluncur mulus. Memperhatikannya, lalu mempelajari cara kerja mainan itu membuat Titis sedikit abai pada insiden tas-berserakan-saat-istirahat itu.

“Iya, sudah nggak marah kok”, bohong ini.

Rumah yang bersih, tapi agak bau obat. Titis tidak merasa terganggu.

Sebenarnya, memang Titis dulunya sempat tinggal di desa beberapa tahun. Bersama Simbah Putri. Adi benar, Simbah memang jualan sayur di pasar. Selama ini Titis tidak merasa ada yang salah dengan itu. Tapi kenapa Titis tadi jadi sebal sekali? Atau bukan sebal barangkali. Atau malu?

Hanya, sejak kelas dua ini, Titis tinggal di kota karena ibu dan ayah harus bekerja. Ibu bekerja di luar kota malah. Titis dititipkan pada nenek dari ayah. Yang dimaksud Adi tadi adalah nenek dari ibu, yang di desa itu.

Lalu,
Tok. Tok. Tok. Suara pintu diketuk dari luar. Diiringi salam, Titis kenal suaranya., “Assalamu’alaykum”.

“Wa’alaykum salam”, jawab Wulan. Menghambur membukakan pintu.
Nenek rupanya, nenek dari ayah.

“Mbak Wulan, Titis main di sini? Dicari neneknya dari desa. Kalau ada, Titis pulang dulu”, kata nenek.
Apa? Nenek dari desa?

“Nggak mau! Sedang sibuk sama Wulan!”, Titis nongol dari dalam.

“Lhoh, itu simbah datang jauh-jauh! Panas-panas! Dari pasar. Ayo!”
Dari pasar? Apa kata teman-teman kalau mereka tahu, coba?!

“Nggak mauu!! Rrgggh!”, Titis ngeyel.

“Ayyoooohh!”, nenek menyeret paksa Titis. Ikut juga akhirnya.

Rumah Wulan dekat, lima menit jalan kaki saja sudah sampai rumah. Sepanjang jalan pulang tadi Titis membisu, Nenek tidak tahu yang terjadi hari ini di sekolah. Perasaan Titis menjadi aneh. Ia sendiri tidak bisa menjelaskan. Jahat.

“Itu, salim sama simbah”, suruh Nenek saat sampai.

Melihat sosok itu. Kumal. Bau matahari. Pakai kebaya, batik. Ada keranjang anyam dari bambu di sampingnya, namanya keranjang bakul. Selendang di atas keranjang, selendang untuk menggendong bakul berisi macam-macam sayur. Ada yang tersulut lagi di dalam dada Titis. Lehernya seperti sakit menahan sesuatu. Menyalalah lagi.

“Nggak mau!! Mau main saja!! Huhh!”, Titis menjadi aneh. Berlari, tidak tahu ke mana. Ke rumah Wulan lagi barangkali. Tidak ada yang benar-benar mengerti perasaan Titis saat itu.

Hei Titis kecil, itu Simbah menjengukmu. Ingin tahu apakah kau di kota baik-baik saja. Sudah lama tidak bertemu Simbah, pasti Simbah kangen, kan? Itu, sebenarnya Simbah membawakanmu jajanan pasar kesukaanmu. Ada juga mangga. Ada juga pisang. Semua yang Titis suka. Tak lupa Simbah juga membawa sayur mayur agar diolah Nenek. Semuanya di dalam bakul Simbah. Simbah yang menggendongnya. Panas-panas begini.

Berat? Tidak apa-apa, kan tadinya mau ketemu Titis..

***

Sejadinya, Titis ingin menangis.

Kalau ingat pernah meninggalkan Simbah seperti itu tiga belas tahun lalu, cukuplah Titis terima dibilang anak paling jahat sedunia.

Titis lupa, ya?
Kalau dulu Titis dimarahi Ayah, Titis selalu berlindung di balik Simbah. Simbah melindungi Titis biar tidak jadi dipukul Ayah pakai sapu lidi. Kalaupun jadi dipukul, yang kena Simbah jadinya.

Titis lupa, ya?
Dulu Titis suka sekali dibonceng pakai sepeda onta Simbah setelah Simbah pulang dari pasar. Lewat sawah-sawah. Simbah selalu membanggakan Titis kalau di jalan berpapasan dengan tetangga atau kenalan Simbah.
“Iya, ini cucu Simbah”, kata Simbah bangga.

Titis lupa, ya?
Dulu Titis kalau tidur di kamar Simbah, sering terbangun subuh-subuh, dan mendapati Simbah sedang khusyu’ solat Subuh. Titis pura-pura masih tidur itu, melirik sipit-sipit Simbah yang masih solat. Simbah takkan lupa menyebut Titis dalam pinta-pintanya.

Dan meskipun akhirnya Titis benar-benar tidur lagi setelah Simbah usai solat, Simbah tetap akan berangkat ke pasar pagi-pagi dengan berat hati. Karena meninggalkan Titis yang pulas tidurnya. Tidak dibangunkan, biar siang nanti tidak ngantuk di sekolah. Titis kan masih kecil, belum solat tidak apa-apa.

Titis lupa, ya?
Simbah selalu membawakan oleh-oleh kalau pulang dari pasar. Lelah Simbah hilang dengan ketemu cucu-cucunya. Titis juga selalu senang kalau Simbah pulang dari pasar. Menanti-nanti tidak sabar. “Simbah hari ini membawa oleh-oleh apa, ya?”, begitu Titis kecil selalu berharap.

Titis lupa, ya?
Saat Titis opname di rumah sakit, Simbah rela tidak berjualan hari itu agar bisa menjenguk Titis. Menjadi tamu pertama yang menjenguk Titis. Menjadi satu-satunya yang menangis saat menjenguk Titis. Titis tahu Titis yang sakit, memakai selang oksigen, terikat selang infus juga, tapi kenapa Simbah yang menangis?

Atau Titis lupa, ya?
Simbah selalu ingin Titis jadi anak baik. Patuh pada orang tua. Kalau sudah gede jangan sampai tidak solat. Ingatlah Allah, kalau minta tolong ya sama Allah. Simbah juga bilang, harta bukan segalanya. Kalau Titis besar nanti, jangan sampai harta melalaikan Titis. Meskipun jualan sayur di pasar, Simbah meneladani untuk tetap banyak bersyukur.

Titis, Simbah tidak berharap banyak. Simbah hanya ingin semuanya selamat. Dunia akhirat.

***

“Women of Heaven”, Titis menggumam judul buku itu. Tiga belas tahun selepas insiden tas-berserakan-saat-istirahat. Tiga belas tahun selepas menyakiti hati Simbah.
Lamat-lamat Titis membacanya, sebelum tidur.

Ah, seandainya Simbah bisa membaca, buku ini mungkin akan Titis berikan pada Simbah (kalau sekarang diberikan bisa gawat, bisa dipakai untuk membungkus cabai lagi!).
Buku ini adalah tentang Simbah. Simbah yang meneladani sifat qana’ah Fatimah az-Zahra, yang menerima segenap keterbatasan bukan untuk diratapi, namun disyukuri.

“Bersikaplah ridha terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia paling kaya” (H.R. Ahmad), dari Women of Heaven, halaman 95, buah tangan Ustadzah Evi Ni’matuzzakiyah.

***

Simbah, betapa Titis cucumu itu dibuat paham sekarang.
Titis ingin mengulang. Titis ingin tidak mendengarkan apapun yang orang lain katakan tentang Simbah. Titis sungguh tidak ingin meninggalkan Simbah saat itu.

Simbah, cukuplah Titis bangga selamanya menjadi cucu kecil Simbah. Memberantakkan cabai-cabai Simbah demi mencari oleh-oleh jajan pasar (maaf ya, Simbah). Dan cukuplah Simbah yang sederhana itu adalah Woman of Heaven-nya Titis.

Simbah percayalah, kalau sekarang Simbah main ke tempat Titis lalu ada teman-teman Titis juga sedang main, Titis akan dengan bangga menggandeng Simbah.

Titis akan bilang kepada teman-teman Titis, “Ini Simbah Titis, Simbah Waltinem namanya”.

***


Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html